Laman

Minggu, 22 Agustus 2010

CERITA SAHABASTKU

CERITA SAHABETKU

Reina adalah teman baru waktu di kelas 6 SD. Walaupun dia teman barunku tetapi dia adalah teman sejati bagiku. Kami selalu bermain bersama, les bersama, dan menghabiskan waktu secara menyenangkan. Namun, waktu SMP aku dan Reina tidak satu sekolahan.
Waktu aku berjalan-jalan dengan Reina. Reina bertemu dengan temannya dan dia menyapa, “Eki !” serunya tertahan. Reina yang berjalan disebelahku tampak berkerut kening.
“Kamu kenapa, Na?”
“Itu…itu teman sekelasku, Shil”
“Kamu berkelahi dengan dia, ya?”
Pada saat itu pun Reina menggeleng dengan kuat-kuat.
“Shila, kita ke warung dulu, yuk!”
“Oke.. aku juga haus, nih.”
Akhirnya aku dan Reina Berjalan ke warung itu. Dan ketika tiba disana ternyata Eky (teman Reina) yang tadi bertanya “Mau beli apa? .
Lho, kamu bukannya? Reina bertanya dengan kalimat menggantun.
Tiba-tiba seorang ibu dating dan berkata “Ada temanmu,ya?”
Dengan ragu-ragu, Eki pun menjawab “Iya, bu.”
Tanpa sengaja pun Reina tau kalu Eki suka membual. Dan tanpa sadar bibir Reina maju beberapa senti.
“Ternyata kamu tukang bohong, huh dasar pembual.”gumam reina.
“Siapa yang pembual” tanyaku .
“Shil, kamu tau kan temanku yang tadi? Dia teman sebangkuku. Dia selalu cerita yang hebat-hebat. Katanya ayahnya pengusaha, mobilnya banyak, rumahnya mirip Taj’Mahal, halamanya luas sampai-sampai bisa buat out bond segala. Nyatanya ?!”
“Hus, kamu tidak boleh memandang rendah pekerjaan orang lain.” Aku melirik Reina yang ada di sebelahku.”
“Bukan begitu, Shil. Aku cuma kesal selama ini cerita-ceritanya hanya bualan saja. Padaha aku sudah menganggapnya teman baikku. Aku tetap mau berteman dengannya kok, apapun pekerjaan orang tuanya !” kata Reina.
“Aku yakin sebenarnya Eki anak yang baik, buktinya dia tadi mau membantu ibunya menjaga warung. Tapi mungkin dia merasa rendah diri lalu mencoba menutupinya dengan cerita-cerita hebat.”kataku pada Reina
“Entahlah, yang pasti aku tak mudah percaya lagi pada omongannya.”jawab Reina sambil mengangkat bahunya.

ANGIN

Angin...


Angin ,,
Hembusanmu begitu cepat
Aku tak bisa mendekapmu
Aku tak sanggup tuk menjagamu
Hingga kini ku membisu


Angin...
Bisakah aku mengejar langkahmu??
Lidahku beku hanya wajahku berkata
Letih sayapku menyusuri cintaku
Tuk bersinggah di istanamu


Angin...
Hati ini hanya menantikan cintamu
Sempat ku bertanya pada langit
Tapi apa daya
Semua itu sia-sia
Karena setitik tinta menjatuhi
Tak kan hilang jika dihati

AMARAH

Amarah...

Amarah datang tanpa alamat
Kelakuan ada bersamaanya
Rasa sayang yang luntur
Pikiran kusut membentur batu

Amarah
Selusin harapanku tlah kau buang
Di kala aku ingin terbang
Pecahnya jendela hati ini
Menggores luka yang dalam
Bunga-bunga hati pun layu
Bersamaan dengan bunyi yang mengaung ,
bunyi yang menggema
Lalu tumpahlah hujan gerimis

Amarah
Angan dan khayalan mendesah,
Mendesah di dalam gerimis
Dengan raga yang kuat
Dengan ratapan yang gelap

Selasa, 17 Agustus 2010

ADAKAH

ADAKAH







Seakan malaikat turun


Turut bermurung denganku


Aku duduk dengan bungkuk


Sekiranya tak sanggup tegak






Sebentuk hati utuh


Tergores luka sedikit, demi sedikit


Sepotong asa dengan kobaran semangat


Sedikit demi sedikit terkikis dan sirna






Adakah dia bertahta atasku


Naluriku berkata ”mungkin”


Tapi ku punya banyak asa


Semangat cintaku


Cinta yang buta


Bagai beribu tangan dewa cinta


Menebarkan benih-benih cinta


Tuk menyergap hatimu


Tuk menyambut kakakku


Bertahta atasku